banner 728x90
Berita

Kepercayaan Konsumen Turun, Kemampuan Menabung Melemah

1012
×

Kepercayaan Konsumen Turun, Kemampuan Menabung Melemah

Share this article
Kepercayaan Konsumen Turun, Kemampuan Menabung Melemah

Opinisulsel.com — Kepercayaan dan kebiasaan menabung konsumen Indonesia mengalami pelemahan pada Mei 2025. Senin 2 Juni 2025, hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa baik Indeks Menabung Konsumen (IMK) maupun Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) tercatat menurun, mencerminkan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga.

Minat Menabung Melemah

Pada Mei 2025, IMK tercatat sebesar 79,0, turun 4,4 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh dua komponen utama:

Indeks Intensitas Menabung (IIM): Turun signifikan sebesar 7,1 poin menjadi 65,1, mengindikasikan penurunan kemampuan dan intensitas masyarakat dalam menabung.

Indeks Waktu Menabung (IWM): Melemah 1,7 poin ke level 92,9, yang berarti konsumen mulai meragukan kelayakan waktu untuk menabung, terutama dalam jangka pendek.

Sebanyak 30,3% responden menyatakan tidak pernah menabung, naik dari 29,3% pada April. Selain itu, proporsi responden yang mengaku menabung lebih sedikit dari rencana meningkat dari 49,1% menjadi 56,7% pada Mei.

Meskipun terdapat sedikit peningkatan dalam persepsi bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menabung (naik dari 27,9% menjadi 29,0%), optimisme terhadap tiga bulan ke depan justru menurun, dari 42,3% menjadi 39,8%.

Direktur Grup Riset LPS, Seto Wardono, menjelaskan bahwa tren pelemahan ini dipengaruhi oleh peningkatan pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk kebutuhan pendidikan menjelang tahun ajaran baru, serta peningkatan pembayaran cicilan utang yang mengurangi alokasi dana untuk menabung.

IMK juga mengalami penurunan pada seluruh kelompok pendapatan rumah tangga:

  • ≤ Rp1,5 juta/bulan: Turun 12,5 poin
  • Rp1,5–3 juta/bulan: Turun 3,0 poin
  • Rp3–7 juta/bulan: Turun 7,2 poin
  • > Rp7 juta/bulan: Turun 1,1 poin, namun tetap berada di atas level 100, yang mengindikasikan niat dan kemampuan menabung masih cukup kuat di segmen ini.

Kepercayaan Konsumen Juga Melemah

Sejalan dengan tren menabung, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga mencatat pelemahan, turun 3,4 poin menjadi 99,7 pada Mei 2025. IKK yang berada di bawah angka 100 mengindikasikan tingkat optimisme yang lebih rendah terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun masa mendatang.

Penurunan IKK didorong oleh:

  1. Indeks Situasi Saat Ini (ISSI): Turun dari 81,9 menjadi 79,4
  2. Indeks Ekspektasi (IE): Menurun dari 118,9 menjadi 114,9

Menurut LPS, penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, seperti:

  1. Kenaikan harga kebutuhan pokok (sembako)
  2. Sulitnya mendapatkan pekerjaan
  3. Dampak cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir, gagal panen, serta kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah
  4. Biaya pendidikan yang meningkat menjelang tahun ajaran baru 2025/2026 juga disebut sebagai faktor yang menekan pengeluaran rumah tangga.

Dari sisi kelompok pendapatan, penurunan IKK tercatat sebagai berikut:

  • > Rp7 juta/bulan: Turun 14,6 poin
  • ≤ Rp1,5 juta/bulan: Turun 8,8 poin
  • Rp3–7 juta/bulan: Turun 2,8 poin
  • Rp1,5–3 juta/bulan: Turun 2,1 poin

Meskipun menurun, kelompok rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp3 juta/bulan masih mencatat IKK di atas 100, menandakan ekspektasi ekonomi jangka menengah-panjang masih relatif optimis.

Catatan Penutup

Indeks Menabung Konsumen (IMK) mencerminkan niat dan kemampuan menabung konsumen, dengan skor di atas 100 menandakan kondisi yang kuat. IMK tersusun dari Indeks Intensitas Menabung (IIM) dan Indeks Waktu Menabung (IWM).

Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) mengukur persepsi terhadap kondisi ekonomi dan prospek ke depan. Skor di atas 100 menandakan optimisme, sedangkan di bawah 100 mengindikasikan kekhawatiran konsumen.

Perkembangan pada bulan Mei ini menunjukkan bahwa konsumen berada dalam tekanan yang cukup berat, baik dari sisi pengeluaran rutin, ketidakpastian ekonomi, maupun tantangan eksternal seperti cuaca ekstrem. Meski demikian, sebagian kelompok konsumen masih mempertahankan harapan akan perbaikan kondisi ke depan. (*)


Eksplorasi konten lain dari mediata.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.