banner 728x90
Berita

Makassar Hijau dan Harmonis, Wali Kota Dorong Penanaman Seribu Pohon

523
×

Makassar Hijau dan Harmonis, Wali Kota Dorong Penanaman Seribu Pohon

Share this article
Makassar Hijau dan Harmonis, Wali Kota Dorong Penanaman Seribu Pohon

Opinisulsel.com – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya menumbuhkan semangat toleransi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan demi mewujudkan kota yang asri dan nyaman.

Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan penanaman 1.000 pohon tabebuya yang digelar Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) dalam rangka Musyawarah Pelayanan Selselbara, di Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu (27/9/2025).

Hadir mendampingi, Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar Helmy Budiman, GM Claro Makassar Anggiat Sinaga, serta pengurus GPIB.

Seribu Pohon untuk Kota Hijau

Munafri menekankan bahwa penanaman pohon bukan sekadar memperindah kota, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.

“Pohon ini akan menghijaukan kota dan memberikan kembali oksigen,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat menjaga keharmonisan antarumat beragama sekaligus merawat kebersihan lingkungan sebagai wujud cinta terhadap Kota Makassar. Menurutnya, kegiatan GPIB mencerminkan simbol toleransi dan kolaborasi lintas iman.

Target RTH dan Penghijauan

Munafri menyebut, saat ini ruang terbuka hijau (RTH) Makassar baru sekitar 11 persen dari kewajiban 30 persen sesuai undang-undang. Karena itu, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan.

“Saya berharap penanaman seribu pohon oleh GPIB ini bisa memicu kelompok lain untuk bergerak serupa,” jelasnya.

Sebagai langkah nyata, Pemkot akan mewajibkan setiap siswa SD dan SMP menanam minimal satu pohon.

“Kalau satu juta penduduk menanam satu pohon, kita sudah punya satu juta pohon baru di Makassar,” tambah Munafri.

Ia juga mendorong pelestarian pohon endemik seperti copeng (anggur Bugis), kecapi, kersen, dan bune. Sementara tabebuya dipilih karena memiliki nilai estetika tinggi sekaligus menyerap polusi.

Tantangan Sampah dan Zero Waste

Selain penghijauan, Munafri menyinggung persoalan pengelolaan sampah. TPA Tamangapa dengan luas 19,1 hektare kini menampung 1.000–1.200 ton sampah per hari dengan tumpukan mencapai 17 meter. Jika tidak diintervensi, daya tampungnya hanya bertahan dua tahun lagi.

Karena itu, Pemkot menargetkan setiap rumah tangga menuju zero waste.

“Semua RT-RW wajib memiliki sistem pengolahan sampah, baik melalui komposter, ekoenzim, budidaya maggot, maupun biopori,” tegasnya.

Pemkot juga akan menggandeng swasta lewat program CSR untuk penyediaan tempat sampah terpilah.

Ketua Panitia, Kristin Sinaga, menegaskan bahwa aksi penghijauan ini adalah bentuk kepedulian umat Kristen terhadap kelestarian lingkungan sekaligus dukungan terhadap program Pemkot.

“Kami ingin turut mempercantik kota yang memberi ruang untuk hidup dan bekerja, sekaligus menjaga keseimbangannya,” ujarnya.

Kristin menambahkan, tabebuya dipilih karena tahan cuaca, menyerap polusi, dan indah ketika berbunga.

Kegiatan ini disambut positif Pemkot Makassar. Ketua TP PKK Melinda Aksa menyampaikan apresiasinya.

“Semangat kebersamaan ini menandakan seluruh warga Makassar bersatu tanpa memandang agama maupun latar belakang,” tuturnya. (*)


Eksplorasi konten lain dari mediata.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.