banner 728x90
Berita

Dari Pesisir Tallo ke Monumen 40.000 Jiwa: Mengikat Ingatan, Menjaga Kemanusiaan

359
×

Dari Pesisir Tallo ke Monumen 40.000 Jiwa: Mengikat Ingatan, Menjaga Kemanusiaan

Share this article
Dari Pesisir Tallo ke Monumen 40.000 Jiwa: Mengikat Ingatan, Menjaga Kemanusiaan

Opinisulsel.com – Angin pagi dari pesisir Tallo membawa aroma garam laut ke pelataran Monumen Korban 40.000 Jiwa, Kamis, 11 Desember 2025. Di antara tiang-tiang tua yang menyimpan kisah kelam masa pendudukan Jepang, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Makassar, Mahyuddin, melangkah pelan, ikut berdiri dalam barisan yang menundukkan kepala mengenang 79 tahun tragedi kemanusiaan itu.

Upacara hari itu berlangsung khidmat. Suara komando upacara memantul di dinding-dinding monumen, sementara doa bersama mengalun lirih, seolah memanggil kembali jejak para syuhada yang gugur tanpa sempat merekamkan namanya di batu nisan. Di Langgau, Kelurahan La’latang, Kecamatan Tallo, memori tentang ribuan nyawa yang direnggut menjadi pelajaran abadi: bahwa kekerasan pernah mencabik tanah ini dan manusia-manusianya.

Di tengah senyap upacara, kehadiran Mahyuddin bukan sekadar formalitas pejabat. Ia membawa pesan bahwa pembangunan kota—dari rumah, permukiman, hingga ruang hidup—tak boleh memutus ingatan sejarahnya. “Peringatan seperti ini mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak berarti apa-apa tanpa nilai kemanusiaan,” begitu yang tercermin dari sikapnya sepanjang rangkaian acara.

Pemerintah Kota Makassar, melalui kehadiran Disperkim, menegaskan bahwa penghormatan terhadap sejarah adalah bagian dari fondasi pembangunan. Solidaritas, kepedulian, dan persatuan yang diwariskan dari tragedi 40.000 jiwa harus tetap hidup, ditanamkan pada generasi yang mungkin hanya mengenal kisah ini dari foto hitam-putih dan fragmen cerita keluarga.

Di antara bunga tabur yang jatuh satu per satu, masa lalu seperti mengetuk pintu masa kini: mengingatkan betapa mahalnya harga sebuah perdamaian.

Upacara ditutup dengan hening beberapa menit, meninggalkan denting sunyi yang merayap ke hati para peserta. Sejenak, Makassar berhenti: bukan untuk meratap, melainkan untuk mengingat—dan memastikan tragedi semacam itu hanya menjadi bab gelap dalam sejarah, bukan bayangan bagi masa depan kota.


Eksplorasi konten lain dari mediata.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.