Opinisulsel.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Indonesia. Sebaran abu vulkanik yang terbawa angin memaksa otoritas menutup sementara sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Sumatra demi menjaga keselamatan penerbangan. Kondisi ini juga menyebabkan ribuan jadwal penerbangan terganggu dan memengaruhi ratusan ribu penumpang.
Hingga Senin, 7 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau pergerakan abu vulkanik untuk menentukan keamanan operasional penerbangan.
Sebaran Abu Vulkanik Berdampak ke Sejumlah Wilayah
Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. Wilayah yang terdampak meliputi:
- DKI Jakarta
- Banten
- Jawa Barat
- Lampung
- Sebagian Sumatra Selatan
Di sejumlah daerah tersebut, kualitas udara menurun akibat abu vulkanik. Pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila berada di wilayah yang terdampak. Selain itu, beberapa sekolah di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi.
Delapan Bandara Terdampak Penutupan
Sebaran abu vulkanik juga mengganggu operasional penerbangan. Hingga Senin pagi, delapan bandara masih terdampak penutupan sementara atau pembatasan operasional, antara lain:
- Soekarno-Hatta, Tangerang
- Halim Perdanakusuma, Jakarta
- Radin Inten II, Lampung
- Husein Sastranegara, Bandung
- Budiarto, Curug
- Pondok Cabe, Tangerang Selatan
- Taufik Kiemas, Lampung
- Atung Bungsu, Sumatra Selatan (telah mulai dibuka kembali setelah evaluasi keselamatan).
Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa penutupan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan sebaran abu vulkanik di ruang udara. Status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti hasil evaluasi keselamatan penerbangan.
Ribuan Penerbangan Terganggu
Gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak luas terhadap transportasi udara nasional. Lebih dari 2.300 penerbangan dilaporkan mengalami pembatalan, penundaan, atau pengalihan rute. Jumlah penumpang yang terdampak diperkirakan melebihi 270 ribu orang.
Sejumlah maskapai domestik dan internasional juga melakukan penyesuaian jadwal penerbangan. Penumpang diminta memantau informasi terbaru dari maskapai sebelum menuju bandara untuk menghindari perubahan jadwal secara mendadak.
Aktivitas Gunung Masih Dipantau
Meski intensitas erupsi dilaporkan mulai menurun, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). PVMBG terus memantau aktivitas vulkanik karena masih berpotensi terjadi erupsi lanjutan dan sebaran abu vulkanik yang dapat memengaruhi penerbangan maupun aktivitas masyarakat.
Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas serta mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan Kementerian Perhubungan.
Catatan Redaksi: Artikel ini akan terus diperbarui mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, perubahan status operasional bandara, serta informasi resmi dari instansi terkait.
Discover more from OpiniSulsel.Com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












