banner 728x90
Berita

Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Anak Krakatau, Ini Penyebabnya

1
×

Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Anak Krakatau, Ini Penyebabnya

Share this article
Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Anak Krakatau, Ini Penyebabnya

JAKARTA — Daratan baru seluas 32,8 hektare terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Perubahan bentang alam tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada awal September 2026.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan penambahan daratan tersebut melalui evaluasi citra satelit Sentinel. Penambahan terlihat pada sektor barat laut, barat hingga barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, SS Rita Susilawati, mengatakan hasil perhitungan menunjukkan luas daratan yang bertambah mencapai 32,8 hektare.

Terbentuk dari Material Erupsi

Berdasarkan analisis Badan Geologi, daratan baru tersebut terbentuk akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava dari erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada 4–6 September 2026.

Material vulkanik yang keluar saat erupsi kemudian menumpuk di sekitar tubuh gunung. Proses tersebut menyebabkan perubahan bentuk dan penambahan luasan daratan.

Selain perluasan pada tubuh utama Gunung Anak Krakatau, citra Sentinel juga memperlihatkan dua gumuk kecil menyerupai pulau di sekitar gunung, masing-masing di sisi barat laut dan tenggara.

Badan Geologi menduga kemunculan dua gumuk tersebut berkaitan dengan rangkaian erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam.

Magma Encer Diduga Mengalir Melalui Rekahan

Badan Geologi memberikan interpretasi awal mengenai proses pembentukan gumuk tersebut.

Magma yang relatif encer diduga mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut menuju tenggara. Material vulkanik yang keluar kemudian terakumulasi di lokasi tertentu sehingga membentuk struktur daratan yang terlihat seperti dua gumuk atau pulau kecil.

Namun, Badan Geologi menegaskan interpretasi tersebut masih bersifat dugaan dan memerlukan verifikasi lapangan. Pemeriksaan selanjutnya akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Bukan Berarti Muncul Gunung Api Baru

Kemunculan daratan baru di sekitar Anak Krakatau memunculkan pertanyaan apakah struktur tersebut merupakan awal terbentuknya gunung api baru.

Edukator mitigasi bencana dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa daratan tersebut belum dapat disebut sebagai gunung api independen.

Menurutnya, struktur tersebut lebih tepat dipahami sebagai akumulasi material vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau. Untuk menyebut sebuah struktur sebagai gunung api baru diperlukan bukti mengenai sistem magma dan aktivitas vulkanik tersendiri.

Dengan demikian, istilah seperti “cucu Krakatau” belum tepat digunakan sebagai fakta untuk menyebut daratan yang baru terdeteksi tersebut.

Berada di Kawasan Selat Sunda

Daratan baru tersebut terdeteksi di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk area antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Luas 32,8 hektare memberikan gambaran cukup besar mengenai perubahan bentang alam yang terjadi. Sebagai perbandingan, sejumlah laporan menyebut luas tersebut hampir mendekati luas Kompleks Candi Prambanan yang sekitar 39,8 hektare.

Namun, luas tersebut merupakan penambahan daratan berdasarkan analisis citra satelit, bukan berarti telah terbentuk sebuah pulau baru seluas 32,8 hektare yang statusnya sudah ditetapkan secara permanen.

Kondisi Masih Perlu Dipantau

Badan Geologi masih melakukan pemantauan terhadap perubahan di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Hal ini penting karena struktur daratan yang baru terbentuk dari material vulkanik masih dapat mengalami perubahan akibat aktivitas gunung api, gelombang, erosi, maupun proses geologi lainnya.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti rekomendasi keselamatan yang berlaku. Berdasarkan laporan terbaru, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada, dengan rekomendasi tidak mendekati pusat erupsi dalam radius 2 kilometer. Untuk dua gumuk yang terdeteksi, masyarakat juga diminta tidak mendekat dalam radius 1 kilometer.

Fakta Singkat Daratan Baru Anak Krakatau

Fakta Keterangan
Lokasi Sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda
Penambahan daratan 32,8 hektare
Pemantauan Citra satelit Sentinel
Penyebab Endapan material piroklastik dan aliran lava
Periode erupsi terkait 4–6 September 2026
Dua gumuk terdeteksi Barat laut dan tenggara
Status Anak Krakatau Waspada (Level II)
Verifikasi lapangan Masih diperlukan

Fenomena daratan baru Anak Krakatau menunjukkan bagaimana aktivitas erupsi dapat mengubah bentang alam dalam waktu relatif singkat. Namun, Badan Geologi masih perlu melakukan verifikasi lapangan sebelum karakter dan keberadaan struktur baru tersebut dapat dipastikan lebih lanjut.


Discover more from OpiniSulsel.Com

Subscribe to get the latest posts sent to your email.